Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Optimalkan Fungsi Intermediasi, Kredit Bank Jago Tumbuh 695%

Bank Jago. (Dok. Bank Jago)
Bank Jago. (Dok. Bank Jago)

Jakarta, FORTUNE - Setelah merampungkan rights issue pada April 2021, Bank Jago terus melakukan ekspansi. Dalam tiga bulan terakhir, perseroan berhasil meningkatkan penyaluran kredit dan memperluas kolaborasinya dalam ekosistem digital. Kerja sama terjadi dengan sejumlah perusahaan peer-to-peer (P2P) lending dan multifinance. Selain itu, terwujud integrasi aplikasi dengan platform investasi Bibit serta super app Gojek.  

“Kolaborasi mendalam dengan ekosistem menjadi kesempatan bagi Jago untuk memperluas penetrasi pasar sekaligus memberikan pengalaman baru bagi nasabah dalam mengakses layanan bank,” demikian Direktur Utama Bank Jago, Kharim Siregar, dalam sebuah pernyataan, Senin (26/7).

Kolaborasi dengan layanan fintech lending direalisasikan dalam bentuk kerja sama pembiayaan dengan, di antaranya, Akseleran, BFI Finance, Logisly, dan Adakami.

“Kolaborasi ini tentu akan terus diperluas. Bersama para mitra, kami berupaya menciptakan akses keuangan ke para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta masyarakat luas. Dengan meningkatkan pembiayaan, kami ingin berkontribusi dalam pemulihan ekonomi akibat pandemi,” ucap Kharim.

Hingga akhir Juni 2021, Bank Jago telah menyalurkan kredit Rp2,17 triliun, tumbuh 695% dari posisi yang sama tahun lalu (yoy). Jika dihitung secara kuartalan, kredit meningkat 68%. Lalu, jika ditarik dari posisi akhir Desember 2020 year-to-date, kredit melesat 139%. 

“Dari sisi nominal memang belum besar karena kami baru memulai ekspansi setelah rights issue II pada April 2021. Namun demikian, kami tetap bersyukur selama pandemi masih bisa mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian,” tutur Kharim.

Pertumbuhan kredit mengerek pendapatan bunga sebesar 289% (yoy). Dengan beban bunga yang hanya meningkat 46%, perseroan mampu membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 423% menjadi Rp139 miliar. 

Sebagai bank teknologi yang tengah berkembang, perseroan terus mengalokasikan belanja modal untuk investasi IT, pengembangan aplikasi, dan perekrutan karyawan baru. Hal ini membuat biaya operasional meningkat 135% menjadi Rp183 miliar. Kenaikan biaya operasional berdampak ke perolehan laba periode semester I-2021 yang masih membukukan rugi bersih Rp47 miliar. 

“Jadi, kinerja kami belum positif karena faktor investasi. Kami menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan masih sejalan dengan perencanaan awal. Investasi ini tentu akan bisa dinikmati hasilnya di masa mendatang,” ujar Kharim.

Dari sisi aset, terdapat kenaikan yang signifikan sebesar 491% dari Rp1,7  triliun menjadi Rp 10 triliun. Adapun ekuitas meningkat 538% dari Rp1,3 triliun menjadi Rp8,1 triliun. Dari sisi perolehan dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan 326% menjadi Rp1,73 triliun.  

“Berbagai indikator keuangan menunjukkan Jago memiliki fundamental yang sangat kuat dan mampu menopang target untuk tumbuh secara berkelanjutan,” kata Kharim.

Share
Topics
Editorial Team
Follow Us